Rekrutmen Pegawai di Kemensos
Kemensos rekrutmen berupa pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Kementerian Sosial (Kemensos)—khususnya untuk formasi Guru dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Sekolah Rakyat—merupakan bagian dari Seleksi Kompetensi Teknis Tambahan (SKT/SKTT) yang dilaksanakan secara daring (online).
1. Psikotes Kemensos
• Materi yang diuji:
• Taraf Kecerdasan atau IQ, kemampuan Kognitif , Penalaran, & Pemecahan Masalah:
. Terutama adalah kemampuan verbal dan nonverbal yang seimbang, menurut James D Ogdon bahwa keseimbangan antara verbal dan nonverbal menentukan kesehatan mental seseorang.
• Sikap Kerja:
Menggunakan tes cepat atau ketahanan kerja seperti Kraepelin/Tahapan ini adalah mengukur stabilitas emosi,memori dan tanggung jawab.
• Kepribadian:
Skala Likert untuk mengukur adaptabilitas, empati, dan daya tahan terhadap stres.
• Kesehatan Mental:
Dinilai dalam kategori kelolosan (sehat mental), bukan dengan skor angka.
• Bobot Penilaian:
• Untuk formasi Guru, psikotes memiliki bobot 30% dari total nilai integrasi.
• Nilai ambang batas (passing score) potensi psikologi terbagi atas:
Dipertimbangkan (skor 64,00–79,99) dan Disarankan (skor >79,99).
• Teknis Pelaksanaan:
Dilakukan secara daring menggunakan perangkat laptop dan HP (untuk pengawasan via Zoom) dengan durasi sekitar 5–6 jam.
Tes Wawancara di Kemensos itu paling beda dari Kemenkes / BPOM / RSPAD.
Kalau Kemenkes cari Nakes yang teliti, *Kemensos cari 1 hal: HATI.*
Karena kamu urus orang termiskin, disabilitas, lansia terlantar, anak jalanan, korban bencana. Kalau kamu tidak punya empati dan mudah jijik / mudah marah = auto gugur, meski IPK 4.0 dan SKD rank 1.
Di CPNS & PPPK Kemensos 2023, *41% gugur di wawancara* karena jawaban tidak menunjukkan jiwa Pekerja Sosial.
2. STRUKTUR WAWANCARA KEMENSOS
Lokasi: Kantor Kemensos RI, Salemba No.28, Jakarta / Balai Besar Kemensos / Via Zoom
Durasi: 20-35 menit
Panel: 3-4 orang - 1 Karo SDM, 1 Dirjen (Rehabilitasi Sosial / Perlindungan & Jaminan Sosial / Penanganan Fakir Miskin), 1 Pekerja Sosial Senior, 1 Psikolog HIMPSI*
Bobot SKB Kemensos: CAT 40% + Wawancara + Praktek 60%. Wawancara bobotnya 35% - jadi penentu utama.
5 KLASTER PERTANYAAN ASLI (100% Keluar)
1. Motivasi & Jiwa Sosial (5 Menit - Pasti Ditanya Pertama)
> - "Kenapa daftar di Kemensos? Padahal gaji Peksos / Penyuluh Sosial kecil, kerjaannya berat di lapangan, urus gelandangan, ODGJ. Kenapa tidak di BUMN atau bank?"
> - "Pernah berinteraksi dengan pemulung, pengemis, ODGJ, disabilitas berat? Jijik atau kasihan?"
> - "Keluarga kamu ekonomi mapan, kamu siap mandi tidak enak, tidur di Balai Sosial, makan sama penerima manfaat?"
Jawaban GUGUR (Banyak sarjana psikologi & kesejahteraan sosial gugur disini):
- "Karena saya mau jadi PNS biar stabil"
- "Saya mau di Kemensos karena dekat rumah / bisa WFH"
- "Saya jijik sih kalau ketemu ODGJ / bau"
Jawaban Lolos 90+ (Rumus: Empati + Amanat UUD + Siap Turun Lapangan):
> "Motivasi saya adalah mengamalkan amanat UUD 1945 Pasal 34: Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Saya terpanggil menjadi Pekerja Sosial karena saya percaya setiap manusia punya martabat. Saya siap turun langsung ke lapangan, ke kolong jembatan, ke lokasi bencana, tidak hanya di belakang meja. Bagi saya, kebahagiaan adalah ketika penerima manfaat bisa mandiri."
Wajib sebut jargon Kemensos:
ATENSI (Asistensi Rehabilitasi Sosial), Permensos, DTKS.
2. Wawasan Kemensos (10 Menit - Banyak Gugur Karena Tidak Hafal Program)
Ini paling sering bikin TMS. Kamu harus hafal program Kemensos, bukan asal jawab.
Wajib Hafal:
A. Pejabat & Program:
- "Siapa Menteri Sosial sekarang? Siapa Dirjen Rehabilitasi Sosial?"
- "Apa itu DTKS? Apa bedanya DTKS dengan Regsosek?"
- "Sebutkan program utama Kemensos! Apa itu PKH, BPNT/Sembako, ATENSI, Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA)?"
- "Apa itu Permensos No. 7 Tahun 2024 tentang ATENSI?"
- "Apa bedanya Pekerja Sosial (Peksos) dan Penyuluh Sosial (Pensos)?"
Jawaban Emas:
- PKH: Program Keluarga Harapan - bantuan bersyarat untuk ibu hamil, balita, lansia, disabilitas
- BPNT: Bantuan Pangan Non Tunai / Sembako Rp 200rb/bulan
- ATENSI:
Asistensi Rehabilitasi Sosial - layanan untuk disabilitas, anak, lansia, korban NAPZA, Tindak Kekerasan, dengan 7 komponen (dukungan hidup, terapi, perawatan sosial, dll)
- *DTKS:
Data Terpadu Kesejahteraan Sosial - basis data orang miskin
B. Isu Terkini:
- "Gimana pendapat kamu tentang bansos salah sasaran? Orang punya mobil dapat PKH? Gimana solusi kamu?"
- "Banyak anak jalanan di Depok dan Jakarta, gimana cara kamu tangani sebagai Peksos?"
- "Viral di TikTok, orang pura-pura miskin untuk dapat bansos, pendapat kamu?"
3. Studi Kasus Lapangan (10 Menit - INI PALING MENENTUKAN)
Panel kasih kasus, kamu harus jawab pakai *Metode Pekerjaan Sosial: Casework, Groupwork, Community.*
3 Kasus Asli yang 80% Keluar:
Kasus 1 - ODGJ:
> "Kamu Penyuluh Sosial di Dinas Sosial Depok. Ada laporan ODGJ telanjang di jalan Margonda, meresahkan, masyarakat mau pukul. Kamu datang, ODGJ marah-marah, bawa batu, bau sekali. Apa yang kamu lakukan langkah pertama sampai tuntas?"
Jawaban Gugur: "Saya panggil Satpol PP untuk angkut" atau "Saya takut, saya tunggu polisi"
Jawaban Lolos: "Saya lakukan pendekatan persuasif, jaga jarak aman, tidak menghakimi, pakai teknik bina suasana, hubungi TKSK / Tagana / Puskesmas untuk rujukan, asesmen, lalu rujuk ke RSJ / Balai Rehabilitasi Sosial dengan ATENSI, dan edukasi masyarakat agar tidak main hakim sendiri."
Kasus 2 - Lansia Terlantar:
> "Ada nenek 80 tahun tinggal di kontrakan di Depok, anak tidak mau urus, tidak punya BPJS, sakit-sakitan, tidak bisa jalan. Tetangga lapor ke Kemensos. Apa intervensi kamu?"
Kasus 3 - Bencana / Darurat:
> "Gunung meletus, kamu Tim Kemensos Tagana, harus buka dapur umum dan trauma healing anak. Kamu 3 hari tidak tidur, tidak ada sinyal, keluarga kamu di Depok panik. Kamu pulang atau tetap bertugas?"
Jawaban harus: Tetap bertugas, karena tugas Tagana adalah negara.
4. Integritas & Anti Pungli Bansos (5 Menit - Sadis)
Kemensos paling sensitif soal korupsi bansos. Ingat kasus Mensos Juliari.
- "Kamu jadi pendamping PKH, KPM (Keluarga Penerima Manfaat) kasih kamu 200 ribu sebagai terima kasih karena cairkan bantuannya. Kamu ambil?"
- "Kepala Desa titip 10 nama keluarganya masuk DTKS biar dapat PKH, padahal mampu. Kalau tidak masukkan, kamu dimusuhi. Kamu gimana?"
- "Ada oknum potong bansos Rp 50 ribu per KPM. Kamu lihat, kamu diam atau lapor? Lapor ke mana?"
Jawaban harus TEGAS:
> "Saya tolak dan laporkan ke UPG Kemensos, Itjen, dan Saber Pungli. Sesuai Permensos dan UU Tipikor, Peksos dilarang menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. DTKS harus berdasarkan musyawarah desa & verifikasi, tidak boleh titipan."
5. Kesiapan Mental & Penempatan
- "Siap ditempatkan di Balai Rehabilitasi di daerah 3T? Di Sentra Phala Martha Sukabumi urus ODGJ berat? Di Balai Anak di Papua?"
- "Kamu cewek/cowok dari kota, siap 24 jam di lapangan urus korban bencana, banjir, longsor?"
- "Punya tato? Pernah buat konten flexing bansos? (Cek Sosmed)"
Etika & Penampilan Wawancara Kemensos
- Pakaian: Putih hitam rapi, tidak mewah. Jangan pakai barang branded mencolok - Kemensos tidak suka yang hedon, karena urus orang miskin.
- Masuk: Salam, senyum, ramah. Tunjukkan empati dari awal.
- Bahasa: Indonesia santun, tidak boleh kasar, tidak boleh menghakimi. *Jangan pernah bilang "pengemis malas", "ODGJ gila" - gugur langsung.* Bilang: "Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS)" atau "Penerima Manfaat".
Simulasi Wawancara Kemensos - Aku Jadi Direktur Kemensos
Aku sidang kamu sekarang, ini soal asli 2023:
> "Saudara hidup di kota, daftar sebagai Pekerja Sosial. Saudara ditugaskan asesmen keluarga miskin di kolong Tol. Sampai di sana, keluarga itu 5 anak, bapak ODGJ, ibu pemulung, tinggal di gubuk triplek bau pesing. Anak paling kecil tidak pakai baju, cacingan, lapar. Saudara punya uang pribadi Rp 500 ribu di dompet, untuk ongkos pulang ke Depok. Apa yang saudara lakukan? Kasih uang pribadi atau tidak? Jelaskan pakai prinsip Pekerja Sosial: Self-determination, Empati, dan Profesional!"
70% peserta jawab "saya kasih uang" - itu SALAH menurut Kemensos, karena charity sesaat, bukan pemberdayaan.
Sumber Pustaka:
James D Ogdon, Psikodiasnotik dan asesmen of personal at work,1968
Tidak ada komentar:
Posting Komentar