Histrionic
CARA MENGHADAPI TEMAN/KOLEGA HISTRIONIC*
1.*Kasih apresiasi spesifik* "Presentasimu bagian data tadi bagus" bukan cuma "kamu keren"
secara historis dan medis, "histeria" bukan lagi merupakan diagnosis medis resmi. Dalam dunia psikiatri modern (seperti dalam panduan DSM-5), kondisi yang dulunya disebut histeria kini dikategorikan sebagai Gangguan Gejala Somatik (Somatic Symptom Disorder) atau Gangguan Konversi (Conversion Disorder / Functional Neurological Symptom Disorder).
Namun, jika dilihat dari sudut pandang neurosains mengenai gejala-gejala yang menyerupai histeria (seperti ledakan emosi yang intens, kehilangan kendali fungsi tubuh sementara, atau kecemasan ekstrem), ada beberapa bagian otak utama yang paling berperan:
1. Sistem Limbik (Pusat Emosi)
Sistem limbik adalah jaringan di dalam otak yang mengatur emosi, memori, dan dorongan dasar. Dua struktur utamanya:
Amigdala: Ini adalah "pusat alarm" otak. Amigdala memproses rasa takut, kecemasan, dan emosi yang kuat. Ketika seseorang mengalami tekanan emosional ekstrem, amigdala menjadi sangat hiperaktif.
Hipokampus: Mengatur memori implisit dan ingatan terkait trauma.
2. Korteks Prefrontal / Prefrontal Cortex (Pusat Kendali Diri)
Korteks prefrontal berada di bagian paling depan otak dan bertugas untuk berpikir rasional, mengambil keputusan, serta mengerem/mengontrol emosi yang dihasilkan oleh amigdala.
Pada kondisi reaksi histeris atau gangguan konversi, terjadi gangguan komunikasi antara korteks prefrontal dan amigdala.
Korteks prefrontal gagal meredam atau mengendalikan respons emosional amigdala yang berlebihan, sehingga emosi meledak tanpa kendali logis.
3. Korteks Insular dan Anterior Cingulate Cortex (ACC)
Korteks Insular (Insula): Berperan dalam interosepsi (kemampuan otak untuk merasakan apa yang terjadi di dalam tubuh, seperti detak jantung atau rasa sakit).
ACC: Terlibat dalam memproses emosi dan respons terhadap rasa sakit.
Ketidakseimbangan pada area ini sering kali memicu timbulnya gejala fisik tanpa penyebab medis yang jelas (gejala somatisasi), seperti tiba-tiba merasa sesak, gemetar, atau lumpuh sementara saat emosi memuncak.
Ringkasan Mekanisme
Gagalnya "Rem" Otak: Gejala histeria terjadi ketika Amigdala (pusat emosi) bekerja terlalu aktif (overaktif) karena tekanan emosional atau trauma, sementara Korteks Prefrontal (pusat kendali diri) tidak mampu menekan atau mengontrol lonjakan emosi tersebut.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sering mengalami episode ledakan emosi yang tidak terkontrol atau gejala fisik akibat stres berat, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu menemukan penanganan yang tepat.
Sumber Pustaka : Millon T, Modern Phycopathology, 1969.



















































