Ciri Pegawai yang menyesal diri atau kera
Manusia adalah makhluk yang selalu punya tujuan dan keinginan,dan juga punya keinginan untuk menjalankan tugas hidupnya yakni melanjutkan dari generasi ke generasi,namun kadang salah antisipasi dalam kesempatan untuk meraih cita cita sehingga bayangan kebahagiaan hidupnya lepas dari genggaman,dan menjadikan perasaan menyesal,dan mengeluh merasa gagal atau kera nasibnya.
Demotivasi = Faktor yang membuat semangat kerja turun: bosan, burnout, tidak bersemangat, konflik. Kalau tidak digali dari awal, yang terjadi: mangkir, kinerja turun, resign, toxic.
Dalam dunia kerja, pegawai yang merasa menyesal (misalnya karena salah memilih karir atau tempat kerja) dan pegawai yang terkesan “apes” (kurang beruntung) sering menunjukkan ciri-ciri khas melalui pola pikir, sikap, dan kinerja mereka.
Ciri Pegawai yang Menyesal
Sering Mengeluh dan Membandingkan:
Mengagungkan perusahaan/pekerjaan sebelumnya atau tempat kerja teman, serta menganggap pekerjaan saat ini sebagai keputusan yang buruk.
Demotivasi dan Berhenti Tenang :
Hanya melakukan tugas minimal sesuai kualifikasi dasar tanpa inisiatif, semangat, atau keinginan untuk belajar hal baru.
Fokus pada Dampak Negatif:
Memandang setiap perubahan, tugas, atau kebijakan baru sebagai beban tambahan daripada peluang untuk berkembang.
Menarik Diri dari Lingkungan Sosial:
Jarang berinteraksi aktif dengan rekan kerja dalam kegiatan di luar tugas utama dan terkesan menutup diri.
Ciri Pegawai yang Terkesan "Kera" (Sial)
Manajemen Waktu yang Buruk:
Sering kali terjebak dalam situasi darurat (batas waktu mepet, salah jadwal) karena perencanaan yang kurang matang, bukan semata-mata faktor nasib.
Komunikasi Kurang Cermat:
Sering mengalami salah paham ( miscommunication ) dengan atasan atau tim, yang berujung pada kesalahan kerja atau pelimpahan tanggung jawab.
Kurang Antisipatif:
Jarang menyiapkan rencana cadangan (Plan B), sehingga ketika terjadi kendala teknis atau perubahan mendadak, hasilnya berdampak langsung pada kinerja mereka.
Sering Menjadi "Korban" Keadaan:
Cenderung memiliki locus of control eksternal , yaitu menyalahkan faktor luar (nasib, sistem, atau orang lain) atas kegagalan yang dialami.
ALAT PSIKOTES UNTUK DETEKSI DEMOTIVASI
No Nama Tes Yang Diukur / Red Flag Demotivasi Kenapa Penting Waktu
1 **PAPI Kostick** `
Rendah N = Perlu Berprestasi` + `Rendah E = Kekuatan Ego` + `Tinggi D = Butuh Dukungan` Gampang nyerah, butuh disuapin terus 45 menit
2 **MMPI-2 / PAI**
`Skor Tinggi Skala Depresi, Kelelahan, Sinisme` Tanda awal burnout & sinis ke perusahaan 60 menit
3 **MBI - Inventarisasi Burnout Maslach**
3 Aspek: Kelelahan Emosional + Depersonalisasi + Prestasi Pribadi Rendah` Alat emas untuk mengukur burnout` 15 menit
4 **JDS - Survei Diagnostik Pekerjaan**
5 Faktor: Keanekaragaman Keterampilan, Otonomi, Umpan Balik. Kalau rendah = Bosan`Periksa apakah pekerjaan yang bikin demotivasi 20 menit
5 **EPPS** `
Def Tinggi = Rasa Hormat` + `Rendah Ach, Dom` Penurut, tidak berani, tidak ada permulaan 30 menit
6 **Tes D2 / Kraepelin**
`Grafik turun drastis + Banyak error` Tidak ada daya tahan. Mudah capek mental 30 menit
7 **WMS - Skala Motivasi Kerja**
`Motivasi Ekstrinsik saja. Intrinsik = 0` "Kalau tidak ada bonus saya tidak kerja" 15 menit
*Paket HR Wajib*: `MBI + PAPI + JDS`
*Paket Deep*: Tambah `MMPI-2` untuk kritik posisial
30 menit
DAFTAR PUSTAKA
1. *Manual Inventarisasi Burnout Maslach*
Maslach, C., & Jackson, SE (1986). _MBI: Maslach Burnout Inventory_. Consulting Psychologists Press.
2. *Survei Diagnostik Pekerjaan*
Hackman, JR, & Oldham, GR (1980). _Perancangan Ulang Pekerjaan_. Addison-Wesley.
3. *Manual PAPI*
Kostick, M. (2003). _PAPI: Inventaris Kepribadian dan Preferensi_. Psikodaya.
4. *Demotivasi di Tempat Kerja*
Herzberg, F. (2003). _Sekali Lagi: Bagaimana Anda Memotivasi Karyawan?_. Harvard Business Review.
No comments:
Post a Comment