ilmu2hrd.blogspot.com

Pages

Kamis, 05 November 2026

Rekrutmen di BIN

 Rekrutmen di BIN

Baru baru ini kita dihebohkan berita penyadapan oleh sejumlah mantan pejabat POLRI terhadap Presiden RI P Prabowo, tentu saja BIN yang punya wewenang untuk menginformasikan dan menyelidiki proses penyadapan itu sehingga bisa terdeteksi.

Psikotes dan wawancara di *BIN (Badan Intelijen Negara)* itu levelnya beda jauh dengan Lapas. Kalau Lapas tesnya "tahan banting dan tidak bisa disuap", BIN tesnya *"bisa dipercaya pegang rahasia negara atau tidak."*


Di BIN ada 3 jalur masuk, dan psikotesnya beda-beda:


*1. STIN (Sekolah Tinggi Intelijen Negara)*

*2. CPNS BIN*

*3. Rekrutmen Khusus / Jalur Talent Scouting (jarang dibuka umum)*


Tapi sistem psikotes & wawancaranya sama polanya.


1. SISTEM PSIKOTES BIN


Ini bukan sekadar Kraepelin / Wartegg seperti perusahaan. Ada 4 lapis, semuanya gugur:


*Lapis 1: Tes Psikologi Klasik (Seleksk)*

- *Inteligensi:* CFIT, IST (Intelligence Structure Test), Army Alpha. Harus IQ di atas rata-rata, minimal 110. BIN cari orang yang bisa olah data cepat.

- *Kepribadian:* MMPI, EPPS, Papikostik. Ini yang paling sadis. MMPI ada 567 soal untuk deteksi bohong, paranoid, depresi, kecenderungan khianat, adiksi.

- *Proyektif:* Wartegg, Baum, DAP, TAT (Thematic Apperception Test - disuruh cerita dari gambar orang). Di BIN, TAT dipakai untuk lihat apakah kamu punya fantasi balas dendam, anti-pemerintah, atau loyalitas ganda.

- *Pantangan fatal di BIN:* Gambar / jawaban yang menunjukkan anti-NKRI, pro-kelompok radikal, suka menyendiri ekstrem, atau tidak bisa kerja tim.


*Lapis 2: Tes Integritas & Kejujuran (Lie Detector)*

- Di Lapas tidak ada ini. Di BIN ada *Poligraf.*

- Ditanya: Pernah pakai narkoba? Pernah bocorkan rahasia? Pernah kontak dengan intelijen asing? Pernah ikut ormas terlarang?

- Psikotes kertas bisa bohong, lie detector poligraf susah bohong. Kalau grafik poligraf naik saat ditanya ideologi, langsung gugur walau nilai psikotes bagus.


*Lapis 3: Tes Profiling & Kejiwaan oleh Psikolog BIN*

- Wawancara mendalam 1 jam dengan psikolog. Bukan tanya "kenapa mau masuk BIN", tapi gali masa lalu:

  > "Ceritakan hubungan kamu dengan ayahmu?"

  > "Pernah kecewa dengan negara? Kapan?"

  > "Kalau disuruh mata-matai teman sendiri demi negara, mau?"

- Psikolog cari 3 cacat: *Labilitas emosi, Fanatisme berlebihan, dan Motivasi uang/jabatan.* Tiga ini = tidak layak jadi intelijen.


*Lapis 4: Penelusuran Mental Ideologi (Litpers / Penyelidikan Pribadi)*

- Ini bukan psikotes kertas, tapi psikotes lapangan. Tim BIN akan cek: media sosialmu 5 tahun ke belakang, teman nongkrong, grup WA, riwayat pinjaman online, bahkan tanya tetangga: "Orang ini suka ngomongin pemerintah?"

- Kalau medsosmu pernah posting ujaran kebencian, dukung kelompok separatis, atau terlalu vokal politik, gugur.

2. Sesi Wawancara Psikologis

Wawancara psikologi BIN biasanya dilakukan setelah atau beriringan dengan rangkaian tes tertulis/digital. Pewawancara (psikolog atau tim khusus) menggali lebih dalam sisi integritas dan motif peserta: [1]

Motivasi & Ideologi: Menanyakan alasan yang mendasari ketertarikan bergabung dengan BIN, pemahaman tentang NKRI, serta komitmen mengabdi secara tertutup/rahasia. [1]

Rekam Jejak & Ketahanan Mental: Menggali riwayat hidup, cara mengatasi konflik, pengalaman kegagalan (misalnya pernah ikut seleksi TNI/Polri sebelumnya), serta bagaimana peserta bereaksi terhadap situasi darurat atau tekanan tinggi. [1]

Pertanyaan Jebakan (Stress Interview): Diberikan pertanyaan paradoks atau situasi dilematis (misalnya terkait ketakutan pribadi seperti fobia ketinggian, komitmen aturan lembaga, atau kesiapan menjaga kerahasiaan tugas) untuk melihat kejujuran dan kendali emosi secara spontan. [1]



Sumber Pustaka:

James D Ogdon, Psikodiasnotik dan asesmen of the personal at work,1968

Tidak ada komentar: