Psikotes
Dalam langkah SDM mengalami berbagai tahap yakni: Analisa Jabatan. Spesifikasi Jabatan, Rekruitmen. Penilaian Karyawan dan Training beserta Pengembangan Karyawan.
Dalam langkah Rekruitmen, setelah mengetahui akan kebutuhan karyawan kadang perlu menggunakan Psikotes, untuk mengetahui Bakat dan kepribadian calon cocok tidak dengan jabatan yang akan diemban. Memang kadang ada pekerjaan yang cara rekrut cukup dengan mengasses skill yang dimiliki seperti tenaga operator, sehingga tidak perlu adanya Psikotes, namun untuk jajaran manajerial perlu dilakukan Psikotes karena kemampuan manajerial perlu adanya aspek-aspek psikologis yang tepat.
Dalam Psikotes banyak kalangan berpandangan skeptis, dengan argumen alat tes yang dipakai sudah layak dan mudah ditebak, hal ini karena orang awan tidak mengerti bagaimana suatu aspek psikologi itu di intepretasi.
Memang Psikotes banyak yang lakukan bimbingan belajar namun tidak bisa sempurna benar benar persis yang dikembangkan, terutama tes graphologi dengan aturan yang benar yakni maksimal waktu 12 menit, baik DAP, Warteg tes maupun Baum Tes.
Sebagai ilustrasi, tes IQ kadang orang awan berpandangan tidak ada kolerasinya antara nilai subtes IQ dengan kepribadian, sehingga kalau mau dianggap kepribadian lulus cukup dengan merekayasa tes kepribadian seperti gambar grafis yang detil, dan segala macam trik yang hanya berdasarkan logika analisa masing-masing. Padahal seorang Psikolog yang berpengalaman dalam melakukan intepretasi batery tes, bisa cek and crossing diantara alat yang dipakai, dalam arti bahwa alat tes IQ nilai skor aspek subtes sebenarnya bisa untk interpretasi kepribadian, demikian sebaliknya alat tes Kepribadia seperti DAP ( gambar Orang ) bisa untuk interpretasi IQ seseorang, itulah kenapa kalau melakukan Tes IQ tidak hanya 1 batery Tes karena supaya hasil mendekati valid akan dilihat dari berbagai alat Tes.
Sebagai contoh apa yang diungkapkan oleh Prof Donald P.,Ogdon,Ph.D., bahwa anak yang nakal bisa diinterpretasi dari berbagai alat tes karena bisa ada perbandingan antara IQ Verbal dengan IQ Perfomance yang menyolok, juga disertai kemampuan Aritmatikanya, juga ada tidak kecenderungan di dalam gambar orang.
Itulah kenapa dalam profesi Manajerial, Jabatan-jabatan Strategis dan bagian Pelayanan perlu dilengkapi Psikotes bukan semata dari Skill atau pengalaman. sebagai gambaran seorang Marketing dalam spesifikasinya harus pandai komunikasi, harus ulet dalam arti tahan terhadap tekanan, harus bisa mengendalikan emosi, harus bermotivasi tinggi, hal-hal ini bisa diinterpretasi dalam cara diassesmen lewat Psikotes, sehingga kita bisa menempatkan suatu pekerjaan marketing harus sesuai spesifikasi yang dipenuhi.
Memang banyak cara assesment dalam merekrut karyawan bisa dari wawancara, bisa dari track record hidupnya, namun Psikotes adalah salah satu sisi yang penting yang tersembunyi, karena didapat dari pengalaman selama perkembangannya akan keluar kemampuan tersebut ketika mendapatkan tantangan dan pemecahan masalah.
Aspek aspek Psikotes yang diungkap :
A. Inteligency atau IQ
IQ adalah kapasitas mental seseorang dalam memahami, menghadapi kehidupan. Orang yang BerIQ normal dan diatas rata rata normal mempunyai kemampuan beradaptasi sesuai masyarakat sekitarnya, mampu mengkanalisasi mana perilaku yang disyaratkan oleh lingkungannya agar mendapat bagian peran dengan lingkungan, berbeda dengan yang berIQ rendah sangat sulit untuk bisa memahami tuntutan dunia luar dari dirinya, maka sering alami keterbelakangan mental. Banyak faktor yang menentukan kesehatan IQ seseorang diantaranya genetik, gizi saat dalam kandungan dan pola asuh baik keluarga dan lingkungan sekitarnya.
B. Aspek Sistimatika Kerja.
Aspek ini menggali bakat dan kapasitas dalam bekerja secara efektif dan produktifnya, baik cara berpikir, dan visual motorik seseorang. Faktor ketrampilan sistematik bisa dilatih terutama gerakan motorik karena lebih ke arah beban kerja otot otot fisik seseorang, walau juga faktor genetik juga menyumbang bakat seseorang.
C. Kepribadian.
Kepribadian atau Trait seseorang adalah karakter atau sifat yang membentuk perilaku atau sifat, tentunya yang digali adalah terbatas pada sifat yang ada hubungan dengan produktifitas kinerja. Sifat Mandiri, mudah menyesuaikan diri, kreatifitas adalah sifat -sifat yang membantu seseorang berProduktif
D. Minat
Bahwa setiap orang punya minat berbeda beda walau kadang juga sama karena pengaruh lingkungan ,ini perlu digali dalam psikotes karena minat adalah bahan dasar dari motivasi seseorang, dimana merupakan dorongan dari dalam diri seseorang untuk berbuat, bersikap, berperilaku untuk mencapai tujuan. Dalam dunia kerja itu motivasi memegang faktor separo dari keberhasilan kinerja, dimana sesuai Formula :// f=mxA, dimana (f) sebagai perfomce kinerja, (m) sebagai faktor motivasi dan (A) sebagai Bakat seseorang.
*KEGUNAAN PSIKOTES DALAM REKRUTMEN*
Singkatnya: `Wawancara ngukur "apa yg dia katakan". Psikotes ngukur "apa yg dia sebenarnya"`
7 KEGUNAAN UTAMA PSIKOTES SAAT REKRUTMEN
Kegunaan Diukur Apa Contoh di KPU
**1. VALIDASI KOMPETENSI**
Cocok tidak dengan jabatan Tes Ketelitian untuk Divisi Teknis Pemilu
**2. DETEKSI RISIKO**
Integritas, kejujuran, potensi pelanggaran Tes Kepribadian: rawan suap/tidak
**3. LIHAT POTENSI**
Bakat yg belum kelihatan di CV IQ + Penalaran untuk calon analis data
**4. PREDIKSI KINERJA**
Konsistensi, stres, cara kerja Tes Kraepelin: tahan lembur saat rekap?
**5. PEMETAAN TIM**
Gaya kerja & konflik tim Introvert/Ekstrovert. Cocok jadi Manajer atau Anggota?
**6. HEMAT WAKTU & BIAYA**
Saring 500 pelamar jadi 50 500 orang wawancara = 1 bulan. Psikotes = 1 hari
**7. BUKTI OBJEKTIF**
Bela Pansel kalau digugat "Nilai psikotes C, jadi tidak lolos" ada datanya
JENIS PSIKOTES YG BIASA DIPAKAI UNTUK PEMIMPIN.
*A. TES KEMAMPUAN / INTELEGENSI*
1. *Tes IQ / IST / CFIT*: Daya nalar, logika, pecah masalah
`Gunanya`: Lihat bisa tidak bedah Peraturan yg rumit
2. *Tes Angka & Logika*: Ketelitian
`Gunanya`: Cocok untuk Divisi Keuangan
*B. TES KEPRIBADIAN*
1. *PAULI / KRAEPELIN*: Kecepatan, ketahanan, konsistensi
`Gunanya`: Tahan banting atau tidak
2. *BIG FIVE / DISC / MBTI*: Sifat dasar
`Gunanya`: Deteksi: Disiplin, Teliti, Agresif, Jujur
3. *EPPS / TAT*: Motif tersembunyi
`Gunanya`: Butuh pengakuan, butuh kekuasaan, takut gagal
*C. TES INTEGRITAS & MINAT*
1. *Tes Grafis / Wartegg*: Proyeksi diri, emosi
`Gunanya`: Lihat agresi, labilitas emosi
2. *Tes Minat Bakat*: Cocok di divisi apa
`Gunanya`: Jangan taruh orang sosial ke divisi hukum
KELEBIHAN PSIKOTES
1. *Objektif*
Tidak bisa "akting" 3 jam tes seperti saat wawancara 15 menit
2. *Prediktif*
Riset: Gabungan wawancara + psikotes akurasinya 70%. Wawancara doang 30%
3. *Hukum*
Jadi dasar kuat kalau calon protes "saya kok tidak lolos"
4. *Ungkap "Blind Spot"*
Ada orang pinter tapi tidak stabil emosi. Ketahuan di tes
KETERBATASAN PSIKOTES - JANGAN DEWAKAN
1. *Bukan penentu tunggal* - Harus gabung dgn wawancara + rekam jejak + kesehatan
2. *Bisa "dilatih"* - Ada bimbel psikotes. Makanya soal harus ganti2
3. *Tergantung alat & psikolog* - Kalau yg ngetes asal2an, hasilnya sampah
4. *Budaya* - Beberapa tes buatan barat kurang cocok dgn budaya Indonesia
*5. CONTOH
Hasil Tes Artinya Tindakan Pansel
**IQ Tinggi + Konsistensi Rendah** Pinter tapi tidak teliti Jangan taruh di Divisi Teknis
**Integritas Rendah** Rawan konflik kepentingan Gugur, walau pengalaman bagus
**Stres Tinggi + Ekstrovert** Bagus saat kampanye, drop saat krisis Taruh di Divisi
**Kepemimpinan Tinggi + Empati Rendah** Komando kuat, tim takut Butuh pembinaan
---
*6. ALUR IDEAL REKRUTMEN DGN PSIKOTES*
`Administrasi` → `CAT` → `Psikotes` → `Wawancara 4F` → `Kesehatan` → `Wawancara Akhir`
Kenapa psikotes sebelum wawancara?
Biar saat wawancara Pansel bisa nanya: "Di tes tertulis Anda skor ketelitian rendah. Kasih contoh kapan Anda teliti?"
Jadi wawancara lebih tajam.
*KESIMPULAN 1 KALIMAT*
`Psikotes bukan untuk mencari "orang sempurna". Tapi untuk menghindari "orang yg salah" masuk ke posisi yg salah.`
Sumber Pustaka : Dale S Beach, Pyichodianostic and Assessment of The Personnel of Work, 1968.