ilmu2hrd.blogspot.com

Pages

Friday, April 17, 2015

Interpretasi IST sederhana

 Inteligency Structure Tes 



Berbeda dengan wechsleer dikembangkan lebih kearah diagnosa klinis  alat tes ini dikembangkan ahli dari Jerman Rudolf H memang untuk seleksi kepegawain instansi atau Pemerintah. 
Interpretasi IST banyak digunakan dalam psikotes dekade ini.    Para praktisi HRD tentu sangat ingin tahu tentang kemungkinan keberhasilan Pegawainya, setelah melakukan tes IST, karena alat ini sangat lengkap untuk memprediksi bakat dalam kecocokan dalam pekerjaan.
IST singkatan dari Intelligenz Struktur Test, yang dicipta oleh Rudolf Amthauer, dan yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibuat norma adalah IST 70. Walau dekade ini telah terjadi perkembangan, terutama adalah adanya penambahan subtes tentang Memori. 

 1. Mengetahui berpikir teoritis 
Menunjukan profil M dibuat nilai dari 4 subtes pertama yang terdiri lembah-bukit, menunjukan adanya bakat Teoritis atau Bahasa .

2. Berbakat Praktis atau berpikir praktis. 
Kebalikan dari grafik diatas, adalah Profil W dari nilai 4 subtes yang terdiri bukit-lembah, menunjukan adanya Bakat lebih Praktis.

 Untuk bakat-bakat Pekerjaan yang lain tentu harus mempertimbangkan subtes-subtes yang lain, dimana dalam IST terdiri dari 9 subtes yang masing-masing mengungkap profil kecerdasan tertentu. 
a.  SE ( satzergaenzung )
Subtes ini mengukur judgement subyek apakah berpikir mandiri atau ketergantungan pada orang lain. 

b.  WA ( wortauswahl )
Subtes ini mengukur kemampuan Bahasa secara induktif, rasa empaty. 

c.  AN ( Analogien )
Subtes ini mengukur kemampuan analisis sekaligus kesimpulan, menerapkan hasil penemuanya dengan dua pengertian yang lain. 

d.  GE ( Gemeinsamkeiten ) 
Subtes ini mengukur kemampuan abstraksi dalam bahasa. 

 e. RA ( Rechenaufgaben )
Subtes ini mengukur kemampuan Praktis dalam berhitung, bersama dengan bahasa menunjukan kemampuan skolastik. 

 f. ZR ( Zahlenrcihen )
Subtes ini  mengukur kemampuan berhitung secara teoritis, fleksibilitas, dan kreatifitas.

g.  FA ( Figurenauswhal )
Subtes ini mengukur imijinasi berupa visual, yang digabungkan menjadi kesimpulan, ini menunjukan kreatifitas dalam merekrontuksi.

 h. WU( wuerfelaufgaben)
Subtes ini mengukur kreatifitas dan fleksibilitas berpikir. 

i ME( merkaufgaben)
Subtes ini  mengukur kemampuan mengingat atau memori. 

 Dari ungkapan tesebut, seandainya subyek walau IQ tinggi dan adanya bebakat Teoritis, namun jika abstraksi nilai rendah, tentu tidak akan berbakat menjadi Guru.

Sumber Pustaka : Rudolf Amthaeur, IST Manual, 1970

Tuesday, April 7, 2015

Perhitungan Gaji Pokok Sederhana

Perhitungan Gaji sederhana Ada beberapa Faktor suatu Perusahaan bisa berjalan dan produktif, diantaranya adalah faktor ekonomi terutama Upah atau gaji Pegawainya. Dasar dan perhitungan Upah banyak jenis dan caranya, namun yang paling diabdopsi adalah Point System. Disini akan kita ilustrasikan secara sederhana yang diabdopsi dari Halsey Plan, dimana harus kita masukan faktor2 dalam analisa jabatan supaya memudahkan perhitungan point yang kita terapkan, faktor-faktor tersebut misalnya kita batasi hanya 5, yakni : Pendidikan, Pengalaman, Tanggung Jawab, Sosial Relation dan Resiko. 
a. Faktor Pendidikan : 1. SMA Point : 10 2. D3 Point : 20 3. S1 Point : 30 4. D IV Point : 40 5. S2 Point : 50

b.  Faktor Pengalaman : 1. 0-1 Th Point : 10 2. 2-5 Th Point : 20 3. 6-8 Th Point : 30 4. 9-14 Th Point : 40 5. 15 th > Point : 50 

c.  Faktor Tanggung Jawab : 1. Belum ada tanggung jawab karena sebatas Pelaksana Point : 10 2. Bertanggung Jawab terhadap Pegawai Groupnya Point : 20 3. Bertanggung Jawab terhadap bawahan / Supervisor : 30 4. Bertanggung Jawab terhadap para Manajer Point : 40 5. bertanggung Jawab Para Direktur Umum dan Teknik Point : 50 

d.  Sosial Relation: 1. Relasi sesama Pegawai kelompok 1 tingkat Point : 10 2. Relasi Anak buah tingkat Penyelia Point : 20 3. Relasi Anak Buah Supervisor dan sesama Manajer Point : 30 4. Relasi Anak Buah dan sesama Direktur Point : 40 5. Relasi Dirum, Direktur Teknik, Stockholder dan Pemerintah Point : 50

e.  Resiko: 1. Tidak ada Resiko Point : 10 2. Ada Resiko sederhana Point : 20 3. Resiko Cukup berat Point : 30 4. Resiko Berat Point : 40 5. Resiko Sangat Berat : 50 Karena Upah sudah ditetapkan oleh Pemerintah berupa Upah Minimum, misalkan diambil contoh Rp 2.500.000,- kita ambil jumlah Point yang paling kecil yakni jumlah Point 50, maka tiap Point dihitung = 2.500.000:50 = Rp 50.000,-. Seandainya Direktur Utama ; maka gaji pokok sbb. point Pendidkan : 50, point Pengalaman : 50, point Tanggung Jawab : 50, Point Relasi : 50, Point Resiko : 50, Jumlah : 250, Gaji Pokoknya adalah sebagai Direktur Utama : 250 X Rp. 50.000,- = Rp.12.500.000,-. tentang Bonus atau tunjangan diperhatungkan tersendiri, namun tidak boleh melebihi 50 % dari UMK, namun untuk tingkat Manajerial biasanya banyak tunjangan-tunjangan yang kemungkinan gaji Kotor sangat besar karena sesuai Pengetahuan, Pengalaman dan Resiko Tanggung Jawabnya.
 
Sumber Pustaka : Dale S Beach, The Psikodiagnosis and assesment people at Work,1968


Tuesday, March 31, 2015

Pemimpin Yang Efektif


Pemimpin ( Leadership) berbeda dengan arti suatu Kepala ( Headship). Kalau Headship adalah seseorang yang karena memperoleh Jabatan sehingga memiliki kekuasaan terhadap orang lain untuk memimpin, biasanya secara legimitasi dari jabatan struktur Organisasi. 

Namun sebagai Manajer suatu Perusahaan atau Direktur sebaiknya tidak hanya memiliki otoritas kekuasaan sebagai kepala terhadap anak buahnya tetapi alangkah baiknya juga memiliki sifat Leadership, untuk menjalankan fungsi manajemen secara efektif.

Ada 4 karasteritik yang harus dimiliki seorang pemimpin supaya menjadi Pemimipin yang efektif ( D.S.Beach : Personal Management ).
  1. Inteligency
 Memang bukan keharusan seorang Pemimpin harus punya IQ lebih tinggi terhadap anak buahnya, namun
      Inteligency sangat penting bagi pemimpin, terutama adalah aspek analisa sintesa, daya kreartifitas    
      sebagai Premarkasa dan kemampuan Administrasi dalam menjalankan fungsi manajerial.

  2. Kepekaan Sosial 
      Pemimpin akan selalu berinteraksi sosial, baik dengan bawahan, dengan Atasan maupun lingkungannya.
      Sangatlah menjadikan hal utama jika Pemimpin bisa memahami Bawahannya, seperti memahami dirinya
      , sehingga akan mudah berintegrasi dan juga penuh perhatian.Hal ini akan menjadikan perfomance Or-
     ganisasi akan maksimal, dikarenakan Pegawai sebagai yang dipimpin akan merasa nyaman, hal yang ter-
     suk faktor seorang Pegawai sukses selain faktor kemampuan dan dukungan keluarga.

 3. Partisipasi Kegiatan Sosial.
     Pemimpin yang ikut partisipasi dalam kegiatan sosial, entah dalam intitusinya maupun lingkungan, akan
     bisa mempengaruhi anak buah atau Pegawainya karena kepeduliannya, dan tentunya sangatlah memban-
    tu memposisikan dirinya atau perusahaanya terhadap nilai-nilai Positif.
 4. Komunikasi yang Efektif.
    Dalam Organisasi Perusahaan tentu akan terjadi komunikasi atasan - bawahan, yang terkadang membutuh
    kan skill bahasa untuk bisa dimengerti bawahannya. Miskomunikasi tentu akan berakibat fatal, dan akan
    menganggu roda kinerja perusahaan. Dewasa ini telah dikembangkan hipnokomunikasi, dimana bagai-
   mana Pemimpin berkomunikasi terhadap bawahan dengan kondisi tidak sadar, dalam arti bawahan seca-
   ra sukarela tanpa ada daya penolakan akan mematuhi Perintah Pimpinan.sebagia contoh misalnya untuk
   mengerjakan sesuatu, akan lebih efektif dengan dimulai perkataan minta tolong, kemudian diakhiri tidak
   lupa mengucapkan terima kasih, dan masih banyak hipno komunikasi yang bisa dipelajari supaya menjadi
   Pemimpin yang efektif.


Sumber Pustaka : Dale S Beach, The Management of People at work, 1968.